2. pagi-pagi mau ke mina untuk melempar jumroh
3. nyate bareng...
4. Cak Bando & mas Anton yang tinggal di jubail, 18 jam dari mekah, di pertambangan minyak.
terkadang aku bermimpi ingin menguasai dunia dengan apa yang ku punya... mBah bilang,"dadio gurune jagad"
Matangkan Manasik
Ilmu memegang peranan penting disegala bidang, termasuk pelaksanaan Haji. Tanpa bekal ilmu yang cukup kita akan terombang-ambingkan dengan pemandangan cara ibadah jamaah haji yang berbeda-beda hampir tiap Negara. Bermacam-macam cara ibadah, memeng tujuannya sama, beribadah pada Alloh. Disisi lain kalau kita tak cukup bekal Mansik Haji dari tanah air, kita akan sangat tergantung pada orang lain dalam beribadah, misalkan pingin towaf aja harus ada yang nuntun atau ibadah-ibadah yang lain, beruntung kalau kita bisa ketemu orang yang mau menuntun kita, kalau tidak?, atau mungkin kita terpisah dari rombongan/regu sehingga harus melanjutkan rangkaian ibadah sendiri tanpa ada penuntunnya.
Aku berangkat bermodal ilmu yang sedikit, hanya sempat belajar manasik selain dar depag yang hanya beberapa pertemuan(seingatku ga sampe 4 kali…) plus belajar prifat “Manasikil haji” hanya beberapa hari. Akhirnya pada saat pelaksanaan towaf khudum (towaf pertama kali/towaf selamat datang), karena belum menguasai medan, waktu terpisah dari rombongan Kloter yang di pandu K.H. Munjahid, jadinya bingung harus berbuat apa, dimulai dari mana, dan lupa do’a mana yang harus dibaca???...
Selain bekal manasik haji/rangkaian wajib haji, tidak rugi pula berbekal ibadah-ibadah sunah di Masjidil haram yang dijanjikan lipatan pahala 100.000 kali,a.l. :
Dari tanah air aku memang sudah berniat untuk melaksanakan haji masyian bersama Tholib-tholib Masjidil haram (yang kebetulan kenal), segala perlengkapan disiapkan di Indonesia seperti tali dan kain lebar serta obat-obatan untuk menjaga stamina. Alhamdulillah semua lancar.